LUBUKLINGGAU – Gelombang kekecewaan menyelimuti massa aksi mahasiswa yang menggelar demonstrasi di gedung DPRD Kota Lubuklinggau.
Aksi yang dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi dan kritik terhadap berbagai persoalan terhadap isu pendidikan tersebut justru tidak mendapatkan respons yang semestinya dari pimpinan lembaga legislatif. (13/5/2026)
Mahasiswa menilai absennya Ketua DPRD Kota Lubuklinggau dalam momentum penyampaian aspirasi rakyat merupakan bentuk ketidakseriusan dan minimnya penghargaan terhadap suara masyarakat, khususnya mahasiswa sebagai bagian dari elemen kontrol sosial.
Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas PGRI Silampari, Lia Zahara, menyampaikan bahwa kehadiran pimpinan DPRD seharusnya menjadi bentuk tanggung jawab moral dan politik terhadap aspirasi yang disampaikan secara terbuka dan konstitusional.
“Kami datang membawa keresahan masyarakat, membawa suara rakyat, dan menyampaikan tuntutan secara damai serta terbuka. Namun sangat disayangkan, Ketua DPRD Kota Lubuklinggau justru tidak hadir menemui massa aksi. Ini menjadi tanda tanya besar bagi kami tentang sejauh mana keseriusan wakil rakyat dalam mendengar aspirasi publik,” ujar Lia Zahara selaku Sekjen Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas PGRI Silampari.
Mahasiswa menegaskan bahwa aksi demonstrasi bukan sekadar bentuk protes, melainkan panggilan moral agar pemerintah dan lembaga legislatif lebih peka terhadap persoalan pendidikan dan kesejahteraan guru yang terjadi di tengah masyarakat.
Ketidakhadiran pimpinan DPRD dinilai mencederai semangat demokrasi dan memperlihatkan adanya jarak antara wakil rakyat dengan rakyat yang diwakilinya.
Dalam aksi tersebut, massa juga menekankan bahwa ruang demokrasi seharusnya menjadi tempat dialog, bukan sekadar formalitas tanpa keberanian untuk bertemu langsung dengan masyarakat yang menyampaikan kritik.
Mahasiswa berharap ke depan tidak ada lagi sikap abai terhadap gerakan rakyat dan aspirasi publik. Sebab demokrasi yang sehat lahir dari keberanian mendengar, bukan menghindar dari suara-suara kritik. (*)





