Banyuasin – Lembaga Perlindungan & Pemberdayaan Perkebunan (LP3) secara resmi meluncurkan Gerakan Tumpang Sari Jagung pada kawasan perkebunan kelapa di Kabupaten Banyuasin.
Kegiatan launching yang berlangsung di Desa Muara Sungsang ini menjadi langkah strategis dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani perkebunan. (29/3/2026)
Peluncuran program tersebut menandai komitmen LP3 dalam menghadirkan inovasi pertanian berbasis produktivitas lahan melalui sistem tumpang sari, yakni penanaman jagung di sela tanaman kelapa yang dinilai memiliki potensi ekonomi tinggi tanpa mengganggu tanaman utama.
Direktur Lembaga Perlindungan & Pemberdayaan Perkebunan (LP3), Muhammad Asri, SH, dalam sambutannya menegaskan bahwa konsep tumpang sari jagung merupakan solusi nyata bagi pengembangan perkebunan kelapa di Banyuasin.

Menurutnya, banyak lahan perkebunan kelapa yang belum dimanfaatkan secara maksimal, sehingga sistem tumpang sari hadir sebagai inovasi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi petani.
“Tumpang sari jagung sangat potensial diterapkan di perkebunan kelapa Banyuasin. Selain meningkatkan produktivitas lahan, program ini menjadi langkah konkret dalam menambah pendapatan dan memperkuat ekonomi petani,” ujar Muhammad Asri.
Kegiatan launching ini turut dihadiri oleh Anggota DPRD Sumatera Selatan, M. Syarif Hidayatullah Askolani Putra, yang menyampaikan dukungan penuh terhadap pengembangan program tersebut.
Ia menilai sinergi antara lembaga, pemerintah, dan legislatif menjadi kunci keberhasilan program pertanian berbasis masyarakat.
“Kami berkomitmen mendukung petani kelapa yang ingin mengembangkan tumpang sari jagung melalui fasilitasi program, pendampingan, hingga akses bantuan pertanian agar program ini berjalan berkelanjutan,” ungkapnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Banyuasin, Arisa Lahari, menekankan pentingnya edukasi dan pendampingan kepada petani sebagai fondasi keberhasilan program.
Menurutnya, peningkatan kapasitas petani melalui penyebaran informasi dan pelatihan teknis akan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat perkebunan.
“Petani perlu mendapatkan edukasi yang tepat agar mampu meningkatkan produksi dan mencapai kesejahteraan yang lebih baik,” jelasnya.
Perwakilan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Sumatera Selatan, Rahmat Febri H, juga menyatakan kesiapan pihaknya untuk berkontribusi dalam penguatan pelatihan serta pengembangan program tumpang sari jagung di Kabupaten Banyuasin ke depan.
Melalui Gerakan Tumpang Sari Jagung ini, LP3 berharap tercipta model pengelolaan perkebunan yang produktif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap kebutuhan ekonomi masyarakat.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya kolaboratif lintas sektor dalam memperkuat ketahanan pangan serta mendorong transformasi perkebunan menuju pertanian modern yang berdaya saing. (*)


